“Matahari buka cabang lagi ya…?” Seorang teman menulis status di facebooknya seperti itu belum lama ini. Bagi warga Jakarta, kalimat sindiran itu pasti sudah sering terdengar di telinga. Belum lagi rentetan-rentetan status keluhan seperti “Hareudang euuy..” atau “Neraka bocor ya…?” yang juga tak kalah sering mondar-mandir di situs jejaring sosial macam facebook atau twitter. Kalau kamu ke kantor naik mobil pribadi dan seharian berlindung dari AC di kantor mungkin akan cuek bebek saja dengan kondisi ini. Sekali-kali coba deh kamu ke kantor naik angkutan umum dan nggak menyuruh OB membelikan makan siang alias jalan sendiri. Mungkin setelah itu kamu juga akan update status facebook dengan kalimat “Panaaasss geelaaa…!”
Sadar kalau makin hari Jakarta makin panas, kami dari The World and Youth (THE WAY) pun merasa gerah untuk cuma sekadar diam dan mengeluh. Maka, berdekatan dengan hari Bumi yang jatuh tiap tanggal 22 April, dengan semangat yang mengucur deras tak kalah deras dengan keringat warga Jakarta, THE WAY mengadakan acara SI JUKI (SIsakan hiJau Untuk Kita) yang bekerjasama dengan Departemen Kehutanan dan didukung oleh tabloid Suara Gepenta News. Tahun ini kegiatan tersebut dilakukan di Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, yang tepatnya hari Sabtu, 24 April 2010 dengan acara inti penanaman 500 bibit mangrove. Bukan ingin sok jadi pahlawan, tapi kami cuma ingin berusaha berkontribusi (meski sedikit sekali) untuk lingkungan yang lebih baik. Nggak salah kan? :p
Kenapa Pulau Rambut?
Mungkin banyak yang berpikir, mau nanam aja kok jauh-jauh ke Pulau Rambut? Di rumah juga bisa! Eits, Jangan manyun dulu…!!! Bagus banget kalau kamu masih mau nanam di rumah. Tapi yang penting buat kamu tahu, Pulau rambut adalah suaka margasatwa yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta. Pulau ini merupakan contoh dari sedikit kawasan pulau kecil dan wilayah konservasi yang belum tersentuh campur tangan manusia. Makanya jangan heran kalau di sana banyak banget spesies burung yang tinggal dan berkembang biak, karena pulau ini memang dijuluki The Last Paradise of Birds. Selain burung, berbagai jenis predator seperti biawak atau ular juga masih banyak terdapat di sana. Jadi nggak salah dong kalau kita harus jaga kelestarian hutan mangrove di kawasan ini biar ekosistem di sana tetap berjalan, dan tentunya menyisakan ruangan hijau untuk kita.
Kenapa mangrove??
Pertanyaan ini juga banyak banget ditanyain peserta SI JUKI. Kami juga pengennya nanam apel, atau mangga sih, tapi sayang tanaman itu nggak cocok tumbuh di sana, hehehe… Tanaman mangrove paling cocok untuk Pulau Rambut karena merupakan kawasan berair. Jenisnya juga beda-beda. Yang kami tanam kali ini adalah bibit mangrove rhizophora mucronata, stylosa, dan aviculota. Nah lho bingung kan? Jangan bingung! Gampangnya, tiga jenis mangrove itu paling cocok sama kawasan di sana. Terus, bibit yang layak ditanam itu yang usianya udah satu tahun yang sebelumnya sudah disemai terlebih dahulu. Di sana tanaman mangrovenya udah banyak yang usianya ratusan tahun lho! Dan yang seperti itu yang banyak dijadikan sarang burung yang tinggal di sana.
Gimana cara nanamnya???
Waktu dijelasin sama Pak Buang (tenaga upah dinas kehutanan dan pertanian DKI Jakarta) soal cara nanam mangrove, emang agak ribet. Tapi pas terjun langsung ke lapangan ternyata gampang banget…! Yang bikin ribet justru tanahnya yang super lembek (makanya banyak yang pakai sepatu boots) dan bau kotoran burung yang banyak bersarang di atas pohon mangrove. Tapi jauh-jauh datang dari Jakarta segala rintangan tak akan menghalangi kami untuk menanam!!! Cara nanamnya sama aja kok seperti nanam bibit tanaman lain. Bibit ditanam di petakan yang sudah ditandai dengan bambu. Bedanya, setelah itu diikatkan tali ke bambu sampai kuat biar nggak hanyut tergulung ombak manakala air laut pasang. Sedikit demi sedikit bibit mangrove ditanami dengan suka ria dan canda tawa oleh peserta hingga tak terasa hanya dalam waktu 1 jam ratusan bibit mangrove berhasil kami tanam. Hore!!!
Gitu Doaaang????
Eitts jangan sedih! Berhubung para peserta kali ini kebanyakan terdiri dari anak-anak muda yang cekatan dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, maka kegiatan yang dilakukan setelah menanam adalah diskusi. Dan untuk menyemarakkan diskusi ini, kami datangkan langsung Ibu Sri Kusmillah dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang menangani bidang kawasan, dan bapak Didit Julianto dari Himpunan Pelestari Hutan Andalan (HPHA) sebagai pembicara. Diskusi membahas seputar kegiatan menanam yang sudah dilakukan, dan testimoni peserta yang mengikuti acara ini. Kesan mereka macam-macan. Ada yang ikut karena penasaran pingin melihat Pulau Rambut. Ada yang seneng banget karena biasanya cuma bisa bercocok tanam di Farmville, tau kan? game facebook yang banyak banget dimainin orang-orang.. Tapi kebanyakan mereka yang ikut mengaku seneng banget bisa ikut berpartisipasi dalam acara ini…!!!
Seru kan??? Makanya kalau THE WAY bikin acara lagi, pada ikutan ya…!!! Kita tunggu kamu di event THE WAY selanjutnya ya…!
Salam,
THE WAY